Kamis, 13 Maret 2014

Karl Marx - Perjalanan Hidup



Karl Marx - Perjalanan Hidup
BAGIAN I
Dari Filsafat Ke Politik
Karl Marx lahir di Trier, di Rhineland Prusia, tanggal 5 Mei 1818. Kedua orang tua Marx adalah keturunan Yahudi, tetapi mereka kemudian dibaptis oleh gereja-negara Prusia ketika Marx masih kanak-kanak. Ideologi pencerahan Perancis telah memenangkan basis yang kuat. Rheineland, yang dikuasai oleh Perancis dari tahun 1798 sampai 1815, dan dari ayah serta guru-guru sekolahnya, Marx mendapatkan pendidikan liberal dan humanis. Jerman, negeri di mana Marx tumbuh dewasa, ketika itu adalah negeri yang terbelakang dibanding negeri tetangga Barat lainnya. Mayoritas penduduk negeri itu bekerja di sektor agraris, dan produksi di perkotaan masih didominasi oleh sistem gilda, dan industri modern baru masuk di Rheinland bagian utara. Kota-kota di Jerman hanya sedikit saja pertumbuhannya, atau tidak sama sekali, sejak abad 16, dan jumlah penduduk Jerman pada masa itu hanya separuh dari jumlah penduduk Paris. Keterbelakangan ekonomi itu tercermin dalam struktur-struktur politik Jerman. Jerman pada waktu itu belum pernah mengalami bentuk revolusi borjuis apapun, dan masih terbagi dalam 39 negara bagian, yang umumnya bersifat absolutis, dalam sebuah konfederasi di bawah Aliansi Suci yang terdiri dari Prusia, Austria dan Rusia.
Walaupun terbelakang, sejarah Jerman tidaklah statis. Revolusi Perancis telah memberi inspirasi bagi lahirnya suatu sentimen demokratik yang kuat di antara kaum pengrajin/seniman dan kaum intelektual di kota-kota Jerman. Sentimen ini tidak sepenuhnya hilang setelah mengalami pendudukan Napoleon, dan masih terus hadir untuk memberi inspirasi bagi lahirnya sebuah revolusi kerakyatan. `Perang Pembebasan' di tahun 1813, walaupun dilancarkan di bawah kepemimpinan Prusia, namun mampu membangkitkan antuasisme bagi sebuah Jerman bersatu, yang muncul seiring arus demokratik dan kemudian mendorong terbentuknya komunitas-komunitas rahasia, yang dikenal sebagai Burschenschaften (Asosiasi-Asosiasi Mahasiswa). Walaupun hanya berdiri di universitas-universitas, namun demonstrasi-demonstrasi yang mereka lakukan, khususnya pada Festival Wartburg tahun 1817, telah mengarahkan gerakan demokratik nasional pada satu fokus. Pada tahun 1819, tindakan-tindakan represif dari Dekrit Karlsbad, yang diperintahkan oleh Aliansi Suci, dilancarkan untuk menindas gerakan ini, yang menyala kembali setelah revolusi Juli di Perancis pada tahun 1830 dan mengalami tingkat represi yang baru.
Perkembangan industri, baik tekstil maupun industri berat, berlangsung sangat serius sepanjang tahun 1830-an, yang diuntungkan oleh kemajuan teknologi yang terjadi di Inggris selama 60 tahun sebelumnya. Pembangunan jalur kereta api menyusul dengan pesat pada tahun 1840-an. Zollverin (serikat cukai) Jerman Utara dibentuk di bawah kepemimpinan Prusia pada tahun 1834 untuk mengantisipasi tuntutan borjuis bagi unifikasi (penyatuan) nasional, namun seiring kemajuan perkembangan kaum kapitalis, maka tekanan kaum liberal untuk adanya konstitusi pun semakin berkembang di Prusia, khususnya di Rhineland, yang makin meningkat setelah naiknya Frederick William IV ke tampuk kekuasaan pada tahun 1840. Jumlah penduduk Jerman meningkat 50% antara tahun 1816-1846, meski emigrasi ke Amerika tetap terjadi, dan ini menambah tekanan pada persolan tanah, khususnya di propinsi-propinsi di timur Prusia. Para petani di Jerman Selatan dan Barat pun semakin terjerat dalam hutang.
Di tahun 1840-an, depresi agraria dan perdagangan mulai menyebabkan kegelisahan di perkotaan dan di pedesaan. Dengan demikian faktor ekonomi, politik, dan ideologi mulai terbentuk, yang kemudian akan berpadu dalam jalinan revolusioner tahun 1848. Pengaruh paradoksikal yang muncul sebagai dampak keterbelakangan Jerman mengguratkan tanda pada kehidupan intelektual, satu lingkungan di mana orang Jerman tidak disangsikan lagi kemajuannya. Sejak revolusi Perancis dan seterusnya, filsafat Jerman mengalami perkembangan berlebihan yang istimewa, yang menghasilkan sistem-sistem idealis yang sangat kuat dari Kant, Fichte, Schelling, dan Hegel. Dalam konteks keterbelakangan historis nasional mereka, intelektual Jerman telah dipaksa, sebagaimana dinyatakan oleh Marx, untuk `memikirkan apa yang telah dilakukan orang lain',1) dan paksaan untuk melakukan abstraksi terhadap pemikiran mereka ini menjadikan filsafat Jerman pada periode ini tidak tertandingi dalam cakupan sintesisnya, yang mencapai puncaknya dalam intregrasi sistematis Hegel terhadap ilmu-ilmu alam, logika, dan teori sosial.
Pada tahun 1836, Marx memulai karir perkuliahannya di Bonn, tapi tahun berikutnya ia pindah ke Berlin. Semula Marx ingin belajar hukum, namun kecenderungan teoritiknya segera membawanya ke filsafat. Pada 1831, Hegel wafat di masa jabatannya sebagai profesor di bidang filsafat di Berlin, tetapi sejak pertengahan dekade tersebut, warisan pemikirannya telah mulai diperdebatkan, yaitu ketika kaum Hegelian Muda (Hegelian Kiri) melancarkan serangan pertama terhadap sistem yang kolot dengan menerbitkan karya David Strauss, Life Of Jesus (Kehidupan Yesus).2) Dalam gabungan keterbelakangan ekonomi dan politik Jerman yang istimewa itu dengan perkembangan teorinya yang berlebihan, maka filsafat Hegelian, dengan implikasi-implikasi politiknya yang ambigu dan ketegangan internal dalam sistem dan metodenya, pada dekade berikutnya ternyata menyediakan ruang bagi pertarungan-pertarungan politik yang ketika itu belum dipertarungkan dalam arena perjuangan kelas terbuka.
Kaum `Kanan', yaitu para Hegelian Ortodoks, yang berjuang mempertahankan konvervatisme dengan membela sistematika Hegel, berdasarkan pernyataan/diktum bahwa `hal yang nyata adalah hal yang rasional' menyediakan legimitasi bagi segala yang ada masa itu, khususnya agama Kristen dan Monarki Prusia. Kelompok Hegelian Kiri menggunakan metode Hegel yang dialektik untuk mengkritisi lembaga-lembaga yang ada sebagai tidak rasional, sehingga berarti `tidak riil', yaitu telah hidup lebih lama dari moment sejarahnya, dan sudah waktunya diubah. Dengan demikian, mereka melancarkan kembali pertarungan lama, sekalipun dengan istilah yang lebih canggih, peperangan melawan agama dan absolutisme seperti yang terjadi pada masa Pencerahan Perancis di abad sebelumnya. Kaum Hegelian Muda tidak menolak kebenaran agama atas landasan agama itu sendiri, melainkan mencoba rmenjelaskan dogma agama dalam level yang berbeda dalam realitas, yang contoh utamanya adalah dalam hal etika.
Pada tahun 1841 Ludwig Feuerbach mencapai apa yang bagi Hegelian Muda nampak sebagai suatu `penghapusan' agama secara tegas melalui bukunya The Essence of Christianity (Hakikat Kristianitas),3) di mana ia mentransformasikan idealisme Hegel menjadi humanisme radikal dengan mengganti subjek abstrak dalam Philosopy of Mind (Filsafat Akal)-nya Hegel dengan spesies manusia, dan menjelaskan agama sebagai keterasingan (alienasi) manusia dari kekuasaan atau hakikatnya sendiri, sehingga kemudian ia dikuasai oleh hal-hal yang ia ciptakan sendiri. Di Prusia dan negara bagian Jerman lainnya yang absolutis, agama adalah pijakan awal alami bagi kritik kaum rasionalis karena negara dan tatanan sosial tradisional masih mendirikan legitimasinya di atas basis agama. Tesis doktoral Marx yang diselesaikan pada tahun 1841, dianggap sebagai sebuah karya yang anti agama.4) Marx melakukan pendekatan terhadap politik dengan bantuan dari kawan Hegelian Muda-nya, Bruno Bauer, yang melakukan transisi dari kritik terhadap agama menjadi kritik terhadap politik secara ekspisit dengan bukunya The Christian State (Negara Kristen). Pada tahun 1841 Marx bergabung dengan Bauer di Bonn dan bekerja sama untuk beberapa waktu, sembari berencana menerbitkan sebuah jurnal, yang akhirnya gagal. Selain itu, Marx juga mendekati Bauer untuk mendapatkan posisi sebagai rekan kerja Bauer di universitas tersebut. Namun demikian, beberapa bulan kemudian, karena kegiatan-kegiatan subversifnya, Bauer akhirnya dipecat dari Universitas Bonn, suatu kejadian yang langsung menyirnakan harapan Marx akan sebuah karir akademik. Artikel politik Marx yang pertama diterbitkan di bulan Februari 1842 dalam jurnal Hegelian Muda Anekdota. Mengomentari perihal sensor di Prusia, Marx menunjukan kontradiksi yang melekat pada sistem sensor tersebut, dan mengajukan argumen pembelaan yang liberal dan rasional tentang perlunya kebebasan pers dan kemerdekaan berpendapat bagi publik.5)
Sepanjang tahun 1842 Marx semakin terlibat dalam koran Rheinische Zeitung (Buletin Rhein) dan akhirnya diangkat menjadi editornya. Rheinische Zeitung yang diterbitkan di Cologne, mewakili aliansi singkat antara filsuf-filsuf Hegelian Muda, yang telah mulai condong ke radikalisme, dengan borjuasi liberal, Rhein yang gelisah terhadap kegagalan sang raja baru untuk mengabulkan konstitusi yang telah lama dijanjikan. Dalam Rheinische Zeitung, Marx berkutat dengan persoalan-persoalan politik aktual dalam batas-batas oposisi liberal, karena ketika itu ia masih percaya dimungkinkannya dan perlunya `tugas yang penuh penderitaan dan tanpa pamrih untuk mencapai kemerdekaan politik tahap demi tahap'.6) Ketika bekerja di Rheinische Zeitung -lah Marx, untuk pertama kalinya, bersentuhan dengan ide-ide sosialis dan komunis Perancis, yang menjadi populer di Jerman pada tahun 1842 berkat propaganda Moses Hess7) dan diterbitkannya buku karya Lorenz Van Stein, The Socialism and Comunism of Contemporery France (Sosialisme dan Komunisme Perancis Kontemporer). Akan tetapi, ketika itu sikap Marx terhadap komunisme Perancis masih sangat berhati-hati. Ketika Hess banyak diserang dalam artikel-artikel yang ditulisnya di Rheinische Zeitung, Marx menulis editorial ` Rheinische Zeitung … bahkan tidak dapat menerima realitas teoritik dari ide-ide komunistik dalam bentuknya yang sekarang, dan bahkan berpendapat bahwa realisasinya dalam praktek lebih tidak mungkin lagi.' Namun demikian, Marx menerima bahwa tulisan-tulisan yang dari Leroux, Considérant dan, yang terpenting, karya-karya terobosan Proudhon hanya dapat dikritik setelah studi panjang dan mendalam.8) Yang lebih berperan penting bagi perkembangan Marx adalah bahwa sebagai editor Rheinische Zeitung, ia dipaksa berhadapan secara praktek dengan `persoalan-persoalan sosial'. Sebelumnya Marx mencurahkan perhatiannya hanya pada persoalan politik dan agama, sebuah bidang di mana Marx berhasil menjelaskan berbagai perdebatan antar para pemikir, dalam cara pandang yang idealis, sekedar untuk membenarkan atau menunjukkan kesalahan ide-ide mereka itu. Kini Marx terlibat dalam konflik-konflik berdasarkan kepentingan material untuk pertama kalinya, yaitu dalam kaitannya dengan pelanggaran legislatif Parlemen Rhein9) tentang hak-hak penggunaan kayu, dan tentang pemiskinan petani anggur di Moselle yang diakibatkan oleh Zollverein. Marx mengritik Parlemen Rhein atas undang-undangnya yang kental akan bias kelas, namun ketika itu Marx masih percaya bahwa perdebatan politis dapat menyelesaikan konflik-konflik seperti itu, syaratnya adalah
kebebasan pers dan debat publik.10) Namun, seperti yang kemudian diakui Marx, masalah-masalah yang ditimbulkan oleh isu-isu inilah yang menyebabkan ia berpaling dari arus besar kritisisme filsafat Hegelian Muda dan berpaling pada materialisme historis.11) Penindasan terhadap Rheinische Zeitung di bulan Maret 1843 menandai berakhirnya harapan bahwa Prusia dapat mengalami kemajuan melalui monarki konstitusional menuju kebebasan demokratik.
Kaum Hegelian Muda kemudian terpecah menjadi beberapa kecenderungan yang berbeda. Beberapa orang seperti Bruno dan Edgar Bauer, serta Max Stirner, terus berusaha mengembangkan posisi-posisi teoritik yang semakin radikal, namun tetap menjaga jarak aman dari aktivitas politik praktis; yang lainnya, terutama Arnold Ruge,12) Moses Hess, Karl Marx, dan Frederick Engels, mulai mencari cara untuk mengubah `senjata kritik' menjadi `kritik dengan senjata'.13) Untuk tujuan itu Ruge dan Marx meninggalkan Jerman pada tahun 1843 ke Paris, tempat di mana Hess telah menetap. Dan di sanalah mereka merencanakan penerbitan sebuah jurnal, Deutsche-Französische Jahrbücher (Buku Tahunan Perancis-Jerman). Namun Kepindahannya ke Paris bukan hanya dipaksa oleh sensor di Prusia. Sebagai mana tersirat dalam judul jurnal mereka, Marx dan kawankawannya berharap untuk menggabungkan pencapaian filsafat mereka dengan pencapaian teori politik Perancis, sehingga akan sampai pada prinsip-prinsip pemandu bagi sebuah revolusi radikal, yang kini mereka  yakini diperlukan di Jerman. Sepanjang 1843, Marx telah menjadi seorang penganut Feuerbach yang bersemangat, yang telah mengembangkan posisinya sepenuhnya di tahun itu dengan penerbitan karyanya, Provisional Theses for the Reform of Philosophy (Tesis Sementara untuk Reformasi Filsafat). Feuerbach telah mengajarkan bahwa penjelasan agama bahwa Tuhan adalah subjek dan manusia hanyalah predikat hanya memerlukan pembalikan untuk mengungkapkan hubungannya yang sejati. Dalam Provisional Theses, Feuerbach mengajukan bahwa `metode transformatif' ini adalah alat untuk mengritik semua filsafat spekulatif (seperti idealisme Jerman), karena filsafat spekulatif tidaklah lebih dari agama dalam tampilan yang sekuler. Kunci konsep kritis Feuerbach adalah konsep Gattungswessen atau species-being (kemakhlukan, hal-hal yang menyatakan keberadaan satu makhluk), yang digunakannya untuk mengungkapkan totalitas kekuatan kolektif kemanusiaan, dan konsep inilah yang berusaha diterapkan oleh Marx, mula-mula terhadap negara politik, kemudian terhadap ekonomi kapitalis yang dimuat dalam dua naskah besar yang ditulis pada tahun 1843 dan 1844.
Marx menulis Critique of Hegel's Doctrine of the State (Kritik terhadap Doktrin Hegel tentang Negara) di musim panas 1843. Ketika itu, Marx baru saja menikah dengan Jenny von Westphalen, yang telah bertunangan dengan Marx selama tujuh tahun, dan tak lama kemudian pindah bersamanya ke Paris. Dalam naskah ini Marx menyerang penyajian Hegel tentang hubungan antara negara dengan masyarakat sipil (yaitu kehidupan ekonomi) sebagai sebuah kasus umum dari filsafat spekulatif. Bagi Hegel, masyarakat sipil adalah wilayah bagi kebutuhan-kebutuhan material, sedang negara adalah wilayah akal, yang posisinya lebih tinggi, tempat diselesaikannya konflik-konflik material. Marx mendasarkan pendapatnya pada humanisme Feuerbach untuk menjelaskan bahwa masyarakat sipil-lah dan bukan negara_ yang merupakan wilayah kehidupan nyata manusia sebagai suatu `species-being' dan bahwa `akal' yang mengatur negara mewakili hubungan nyata manusia dalam bentuk yang terbalik. Birokrasi negara tidaklah mungkin secara rasional menengahi konflik-konflik kepentingan material, melainkan membebani eksistensi nyata manusia dengan menjadi kekuatan penindas. Dalam kritik ini Marx telah melihat bahwa penyelesaian terhadap
pertentangan antara negara dan masyarakat sipil memerlukan penghancuran negara demi terbentuknya masyarakat sipil. Inilah posisi yang kelak akan diintegrasikan Marx dalam konsepsinya tentang komunisme ilmiah. Akan tetapi dalam tahapan perkembangannya waktu
itu, Marx baru memiliki konsepsi yang samar tentang pertentangan kelas. Ia masih percaya bahwa pemungutan suara secara universal akan mampu menciptakan penghancuran negara penindas, dan pembebasan bagi bagi species-life manusia, namun ia belum mengakui perlunya penghapusan kepemilikan pribadi _yaitu komunisme_ sebagai syarat dasar bagi pembebasan ini. Namun demikian, doktrin Feuerbach tentang species-being dengan mudah mengarah ke komunisme, dan Marx pun segera mengambil langkah ini sebagai kelanjutannya. Beralihnya Marx ke komunisme terjadi segera setelah ia pindah ke Paris di mana ia belajar dari tangan pertama tentang tendensi-tendensi (aliran politik yang masih berbentuk pemikiran) sosialis dan komunis, dan terlibat dalam diskusi-diskusi dengan kaum militan dari
gerakan buruh Perancis.
Dalam buruh-buruh Perancis yang sadar kelas ini Marx menemukan penyelesaian untuk masalah-masalah yang telah ia telaah dalam Critique of Hegel's Doctrin of the State, dan penyebutan istilah proletariat untuk pertama kalinya dalam Pendahuluan terhadap Critique, yang masih dalam perencanaan penerbitan, yang diterbitkan dalam The Deutsche-Französische Jahrbücher. Di sini Marx berargumen bahwa satu-satunya kelas yang dapat melaksanakan revolusi radikal di Jerman (yaitu, kelas yang akan mewujudkan tujuan-tujuan filsafat humanis Feuerbach) adalah, “Kelas dengan rantai-rantai radikal, sebuah kelas dalam masyarakat sipil yang bukan merupakan sebuah kelas dari masyarakat sipil, sebuah kelas yang memiliki karakter universal karena penderitaannya universal, yang tidak menuntut perbaikan yang khusus karena kesalahan yang dilakukan terhadapnya memang bukan kesalahan khusus, melainkan kesalahan secara keseluruhan. Pemecahan atas masyarakat ini, sebagai suatu kelas tertentu, adalah proletariat”.
Ketika tinggal di Paris selama setahun (1843-1844),  Marx berkembang melampaui rumusan awalnya dalam filsafat Jerman. Ia bukan hanya melanjutkan studinya tentang teori politik Perancis, yang di satu sisi dimaksudkan untuk menuliskan sejarah Konvensi-konvensi Revolusi Perancis, melainkan juga, karena dirangsang oleh kontaknya dengan gerakan proletarian, mulai mempelajari para ahli ekonomi Inggris yang menelaah `batang-tubuh' masyarakat borjuis. Walaupun begitu, dalam naskah awal Marx yang berkutat dengan persoalan-persoalan ekonomi dan komunisme _The Economic and Political Manuscript of 1884_ untuk pertama dan terakhir kalinya, Marx masih berusaha mengintregrasikan materi pokok yang baru ini ke dalam kerangka humanisme a la Feuerbach.
Dalam Naskah-naskah 1884, Marx menerapkan metode kritis Feuerbach terhadap ekonomi politik, mengritik sistem ekonomi borjuis dan para pembelanya karena membalikkan hubungan-hubungan yang sejati antara kerja dan modal. Bukan modal yang menjadi subjek dari proses ekonomi dan kerja sebagai predikatnya melainkan, pada kenyataannya, kerja manusia-lah, aktivitas alami dari species-being manusia, yang direnggangkan atau diasingkan dan diubah menjadi modal yang menindas buruh. Dalam hal ini, komunisme dirumuskan sebagai pengambilalihan kembali kekuatan-kekuatan produktif manusia yang direnggangkan, sehingga menjadi bentuk masyarakat yang sesuai dengan species-being manusia.
Naskah-naskah ini sering dianggap sebagai pertanda sampainya Marx pada tema-tema dasar teorinya yang lebih matang. Tentunya sangat tepat kalau dikatakan bahwa gagasan tentang modal sebagai `kerja yang diasingkan' mempengaruhi telaah Marx yang selanjutnya tentang Surplus Value (Nilai Lebih) dan bahwa Marx, untuk pertama kalinya, secara eksplisit menyatakan dengan bersemangat bahwa komunisme adalah penyelesaian terhadap pertentangan-pertentangan sosial. Namun perkembangan teoritik Marx masih jauh dari pemisahan penuh dengan rumusan-rumusan awalnya. Dalam naskah itu, Marx bukan tidak sepakat dengan kandungan deskriptif teori ekonomi borjuis, melainkan hanya mengritik realitas yang diuraikan oleh teori ekonomi borjuis sebagai satu hal yang tidak manusiawi. Demikian pula Marx mengritik para ideolog yang menerima dan membenarkan realitas ini. Namun dalam Capital, Marx tidak lagi mengritik masyarakat kapitalis semata berdasarkan basis kriteria humanistik eksternal, melainkan mengritik teori ekonomi borjuis karena tidak memiliki pemahaman ilmiah yang memadai tentang ekonomi kapitalis dan, menjelaskan bagaimana realitas ekonomi kapitalis mengandung kontradiksi di dalam dirinya yang mendorong sistem ekonomi kapitalis itu ke dalam krisis. Dan, sekalipun pada tahun 1884 Marx telah menerima perlunya penyelesaian komunistik terhadap pertentangan-pertentangan dalam masyarakat kapitalis, kenyataannya ia mengritik tendensi komunis masa itu, yang diwakili Blanqui dan Cabet, dengan argumen bahwa politik mereka itu didasarkan pada keserakahan dan iri hati yang ditimbulkan kapitalisme itu sendiri, padahal mereka harus keluar dari dari dorongan-dorongan `egois' ini. Tak lama setelah itu, Marx menerima bahwa perjuangan kelas yang `egois' adalah kekuatan penggerak sejarah dan yang akan mengarahkannya pada komunisme, dan ia mengritik Cabet dan Blanqui karena alasan-alasan yang agak lebih berbeda. Naskah-naskah 1884 tentu saja mempengaruhi perhatian Marx di masa sesudahnya, dan tulisan-tulisan itu jelas mengandung pemahaman-pemahaman penting Marx yang kelak akan digabungkan ke dalam teorinya tentang materialisme historis.
Namun naskah itu kurang begitu menandakan lahirnya teori-teori baru, melainkan lebih merupakan posisi sandar terakhir Marx dalam dunia ideologi Jerman, begitulah istilah yang kemudian disebut Marx sendiri, yaitu suatu usaha keras yang hanya berlangsung singkat untuk menggabungkan realitas ekonomi politik dan komunisme ke dalam humanisme filosofis Ludwig Feuerbach.
Notes
1) Karl Marx, `Contribution to the Critique of Hegel's Philosophy of Right: Introduction' dalam Early Writings, Allen Lane/Penguin Books, dalam persiapan.
2) Terjemahan dalam bahasa Inggris oleh Marian Evans (George Eliot), London, 1854.
3) Terjemahan dalam bahasa Inggris oleh George Eliot, London, 1853.
4) `On the Difference between the Democritian and Epicurian Philosophies of Nature', MEW Ergänzungsband (Volume Tambahan) I.
5) `Comments on the Last Prusian Cencorship Instruction', dalam L.D. Easton dan K.H. Guddat, Writings of the Young Marx on Philosophy and Society, Doubley, New York, 1867.
6) Surat Marx pada Oppenheim, 25 Agustus 1842, MEW 27, h.410.
7) Moses Hess pada saat itu sangat dipengaruhi oleh pemikiran Fourier, seorang sosialis utopian, dan tak lama kemudian menjadi pendiri `sosialisme murni' Jerman. Belakangan Hess menjadi anggota Liga Komunis, kendati tidak pernah menerima pemikiran Marx dan Engels
tentang Komunisme Ilmiah.
8) Easton and Guddat, op.cit., h.134-5. Pierre Leroux adalah penganut Saint-Simon, dan Victor Considérant adalah seorang Fourierist.
9) Rhine sebagai salah satu dari delapan propinsi monarki Prusia, memiliki parlemennya sendiri. Meskipun begitu, Diet (parlemen) ini didominasi oleh aristokrasi, dan tak lebih dari kekuasaan penasehat semata.
10) Lihat, `The Defence of Moselle Corespondent: Economic Distress and Freedom of the Press', diringkaskan dalam Easton and Guddat, op.cit., aslinya dalam bahasa Jerman, dalam MEW 1.
11) Lihat penjelasan ringkas dan satu-satunya dari Marx tentang perkembangan intelektualnya sendiri dalam `Preface to A Contribution to the Critique of Political Economy', MESW, h. 181-5.
12) Meskipun begitu, Arnold Ruge tidak sepakat dengan Marx sampai sejauh komunisme. Pada tahun 1848, ia duduk sebagai perwakilan Partai Radikal Demokrat dalam Dewan Frankfurt dan terakhir menjadi seorang Nasional Liberal.
13) `Contribution to the Critique of Hegel's Philosophy of RightIntroduction' dalam Early Writings. Ini adalah terjemahan dari `arms of critic' dan `critic of arms' _yang dimaksudkannya untuk membedakan orang-orang yang menggunakan kritik sebagai senjata, dan orang-orang yang membawa kritik langsung ke lapangan, menjadikan gerakan perlawanan sebagai bentuk kritik yang tertinggi.

Minggu, 29 September 2013

Makna Tembang Lir-ilir oleh Sunan Kalijaga

Sarat Makna Tembang Lir-ilir oleh Sunan Kalijaga - Lirik Lagu tembang jawa Lir-ilir ciptaan sunan kalijaga sekitar tahun 1478 Masehi)






Lir-ilir, lir-ilir
tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane
Yo surako… surak hiyo…

Sayup-sayup bangun (dari tidur)
Pohon sudah mulai bersemi,
Demikian menghijau bagaikan gairah pengantin baru
Anak penggembala, tolong panjatkan pohon blimbing itu,?
walaupun licin(susah) tetap panjatlah untuk mencuci pakaian
Pakaian-pakaian yang koyak(buruk) disisihkan
Jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore
Mumpung terang rembulannya
Mumpung banyak waktu luang
Mari bersorak-sorak ayo…

Lir ilir, judul dari tembang di atas. Bukan sekedar tembang dolanan biasa, tapi tembang di atas mengandung makna yang sangat mendalam. Tembang karya Kanjeng Sunan ini memberikan hakikat kehidupan dalam bentuk syair yang indah. Carrol McLaughlin, seorang profesor harpa dari Arizona University terkagum kagum dengan tembang ini, beliau sering memainkannya. Maya Hasan, seorang pemain Harpa dari Indonesia pernah mengatakan bahwa dia ingin mengerti filosofi dari lagu ini. Para pemain Harpa seperti Maya Hasan (Indonesia), Carrol McLaughlin (Kanada), Hiroko Saito (Jepang), Kellie Marie Cousineau (Amerika Serikat), dan Lizary Rodrigues (Puerto Rico) pernah menterjemahkan lagu ini dalam musik Jazz pada konser musik “Harp to Heart“.

Apakah makna mendalam dari tembang ini? Mari kita coba mengupas maknanya

Lir-ilir, lir-ilir tembang ini diawalii dengan ilir-ilir yang artinya bangun-bangun atau bisa diartikan hiduplah (karena sejatinya tidur itu mati) bisa juga diartikan sebagai sadarlah. Tetapi yang perlu dikaji lagi, apa yang perlu untuk dibangunkan?Apa yang perlu dihidupkan? hidupnya Apa ? Ruh? kesadaran ? Pikiran? terserah kita yang penting ada sesuatu yang dihidupkan, dan jangan lupa disini ada unsur angin, berarti cara menghidupkannya ada gerak..(kita fikirkan ini)..gerak menghasilkan udara. ini adalah ajakan untuk berdzikir. Dengan berdzikir, maka ada sesuatu yang dihidupkan.

tandure wus sumilir, Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar. Bait ini mengandung makna kalau sudah berdzikir maka disitu akan didapatkan manfaat yang dapat menghidupkan pohon yang hijau dan indah. Pohon di sini artinya adalah sesuatu yang memiliki banyak manfaat bagi kita. Pengantin baru ada yang mengartikan sebagai Raja-Raja Jawa yang baru memeluk agama Islam. Sedemikian maraknya perkembangan masyarakat untuk masuk ke agama Islam, namun taraf penyerapan dan implementasinya masih level pemula, layaknya penganten baru dalam jenjang kehidupan pernikahannya.

Cah angon cah angon penekno blimbing kuwi. Mengapa kok “Cah angon” ? Bukan “Pak Jendral” , “Pak Presiden” atau yang lain? Mengapa dipilih “Cah angon” ? Cah angon maksudnya adalah seorang yang mampu membawa makmumnya, seorang yang mampu “menggembalakan” makmumnya dalam jalan yang benar. Lalu,kenapa “Blimbing” ? Ingat sekali lagi, bahwa blimbing berwarna hijau (ciri khas Islam) dan memiliki 5 sisi. Jadi blimbing itu adalah isyarat dari agama Islam, yang dicerminkan dari 5 sisi buah blimbing yang menggambarkan rukun Islam yang merupakan Dasar dari agama Islam. Kenapa “Penekno” ? ini adalah ajakan para wali kepada Raja-Raja tanah Jawa untuk mengambil Islam dan dan mengajak masyarakat untuk mengikuti jejak para Raja itu dalam melaksanakan Islam.

Lunyu lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro. Walaupun dengan bersusah payah, walupun penuh rintangan, tetaplah ambil untuk membersihkan pakaian kita. Yang dimaksud pakaian adalah taqwa. Pakaian taqwa ini yang harus dibersihkan.

Dodotiro dodotiro, kumitir bedah ing pinggir. Pakaian taqwa harus kita bersihkan, yang jelek jelek kita singkirkan, kita tinggalkan, perbaiki, rajutlah hingga menjadi pakain yang indah ”sebaik-baik pakaian adalah pakaian taqwa“.

dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore. Pesan dari para Wali bahwa suatu ketika kamu akan mati dan akan menemui Sang Maha Pencipta untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatanmu. Maka benahilah dan sempurnakanlah ke-Islamanmu agar kamu selamat pada hari pertanggungjawaban kelak.

Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane. Para wali mengingatkan agar para penganut Islam melaksanakan hal tersebut ketika pintu hidayah masih terbuka lebar, ketika kesempatan itu masih ada di depan mata, ketika usia masih menempel pada hayat kita.

Yo surako surak hiyo. Sambutlah seruan ini dengan sorak sorai “mari kita terapkan syariat Islam” sebagai tanda kebahagiaan. Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (Al-Anfal :25)

* Diambil dari berbagai sumber. Mohon dikoreksi jika ada kesalahan, karena saya juga manusia yang tak pernah lepas dari salah dan dosa.
*http://www.kaskus.co.id/thread/50fd13c84f6ea14975000006/sarat-makna-tembang-lir-ilir-ciptaan-sunan-kalijaga-sekitar-tahun-1478-masehi 

Pandawa Lima

Pandawa


Para Pandawa dan istri mereka dalam lukisan India. Keterangan: Nakula dan Sadewa (kiri-kanan atas), Arjuna (kanan bawah), Bima (kiri bawah), Yudistira dan Dropadi (tengah).

Pandawa adalah sebuah kata dari bahasa Sanskerta (Dewanagari: पाण्डव; Pāṇḍava), yang secara harfiah berarti anak Pandu (Dewanagari: पाण्डु; IAST: Pāṇḍu), yaitu salah satu Raja Hastinapura dalam wiracarita Mahabharata. Dengan demikian, maka Pandawa merupakan putra mahkota kerajaan tersebut. Dalam wiracarita Mahabharata, para Pandawa adalah protagonis sedangkan antagonis adalah para Korawa, yaitu putera Dretarastra, saudara ayah mereka (Pandu). Menurut susastra Hindu (Mahabharata), setiap anggota Pandawa merupakan penjelmaan (penitisan) dari Dewa tertentu, dan setiap anggota Pandawa memiliki nama lain tertentu. Misalkan nama "Werkodara" arti harfiahnya adalah "perut serigala". Kelima Pandawa menikah dengan Dropadi yang diperebutkan dalam sebuah sayembara di Kerajaan Panchala, dan memiliki (masing-masing) seorang putera darinya.
Para Pandawa merupakan tokoh penting dalam bagian penting dalam wiracarita Mahabharata, yaitu pertempuran besar di daratan Kurukshetra antara para Pandawa dengan para Korawa serta sekutu-sekutu mereka. Kisah tersebut menjadi kisah penting dalam wiracarita Mahabharata, selain kisah Pandawa dan Korawa main dadu.

Silsilah

Para Pandawa terdiri dari lima orang pangeran, tiga di antaranya (Yudistira, Bima, dan Arjuna) merupakan putra kandung Kunti, sedangkan yang lainnya (Nakula dan Sadewa) merupakan putra kandung Madri, namun ayah mereka sama, yaitu Pandu.

 
Wangsa
Yadawa
 
 
 
 
 
 
 
Dinasti
Kuru
 
Raja
Madra
 
 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

 
 
 
 
Surasena
 
Byasa
 
 
 
Ambalika
 
 
 
 
Salya
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 


 
Kunti
 
 
 
 
Pandu
 
 
 
 
Madrim
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Yudistira
 
Bima
 
Arjuna
 
Nakula
 
Sadewa

Penitisan

Menurut tradisi Hindu, kelima putra Pandu tersebut merupakan penitisan tidak secara langsung dari masing-masing Dewa. Hal tersebut diterangkan sebagai berikut:
  • Yudistira penitisan dari Dewa Yama, dewa akhirat;
  • Bima penitisan dari Dewa Bayu, dewa angin;
  • Arjuna penitisan dari Dewa Indra, dewa perang;
  • Nakula dan Sadewa penitisan dari dewa kembar Aswin, dewa pengobatan.

Anggota

Figur yang di tengah adalah Yudistira. Dua orang di sebelah kirinya adalah Bima dan Arjuna. Si kembar Nakula dan Sadewa berada di sebelah kirinya. Istri mereka, yang paling kiri, adalah Dropadi. Ukiran di Kuil Dasavatar, Deogarh, India.
Pandawa dan sepupu mereka, Kresna. Lukisan dalam Razm Nama, Mahabharata berbahasa Parsi, abad ke-16.

Yudistira

Yudistira merupakan saudara para Pandawa yang paling tua. Ia merupakan penjelmaan dari Dewa Yama dan lahir dari Kunti. Sifatnya sangat bijaksana, tidak memiliki musuh, dan hampir tak pernah berdusta seumur hidupnya. Memiliki moral yang sangat tinggi dan suka mema’afkan serta suka mengampuni musuh yang sudah menyerah. Memiliki julukan Dhramasuta (putera Dharma), Ajathasatru (yang tidak memiliki musuh), dan Bhārata (keturunan Maharaja Bharata). Ia menjadi seorang Maharaja dunia setelah perang akbar di Kurukshetra berakhir dan mengadakan upacara Aswamedha demi menyatukan kerajaan-kerajaan India Kuno agar berada di bawah pengaruhnya. Setelah pensiun, ia melakukan perjalanan suci ke gunung Himalaya bersama dengan saudara-saudaranya yang lain sebagai tujuan akhir kehidupan mereka. Setelah menempuh perjalanan panjang, ia mendapatkan surga.

Bima

Bima merupakan putra kedua Kunti dengan Pandu. Nama bhimā dalam bahasa Sanskerta memiliki arti "mengerikan". Ia merupakan penjelmaan dari Dewa Bayu sehingga memiliki nama julukan Bayusutha. Bima sangat kuat, lengannya panjang, tubuhnya tinggi, dan berwajah paling sangar di antara saudara-saudaranya. Meskipun demikian, ia memiliki hati yang baik. Pandai memainkan senjata gada. Senjata gadanya bernama Rujakpala dan pandai memasak. Bima juga gemar makan sehingga dijuluki Werkodara. Kemahirannya dalam berperang sangat dibutuhkan oleh para Pandawa agar mereka mampu memperoleh kemenangan dalam pertempuran akbar di Kurukshetra. Ia memiliki seorang putera dari ras rakshasa bernama Gatotkaca, turut serta membantu ayahnya berperang, namun gugur. Akhirnya Bima memenangkan peperangan dan menyerahkan tahta kepada kakaknya, Yudistira. Menjelang akhir hidupnya, ia melakukan perjalanan suci bersama para Pandawa ke gunung Himalaya. Di sana ia meninggal dan mendapatkan surga. Dalam pewayangan Jawa, dua putranya yang lain selain Gatotkaca ialah Antareja dan Antasena.

Arjuna

Arjuna merupakan putra bungsu Kunti dengan Pandu. Namanya (dalam bahasa Sanskerta) memiliki arti "yang bersinar", "yang bercahaya". Ia merupakan penjelmaan dari Dewa Indra, Sang Dewa perang. Arjuna memiliki kemahiran dalam ilmu memanah dan dianggap sebagai ksatria terbaik oleh Drona. Kemahirannnya dalam ilmu peperangan menjadikannya sebagai tumpuan para Pandawa agar mampu memperoleh kemenangan saat pertempuran akbar di Kurukshetra. Arjuna memiliki banyak nama panggilan, seperti misalnya Dhananjaya (perebut kekayaan – karena ia berhasil mengumpulkan upeti saat upacara Rajasuya yang diselenggarakan Yudistira); Kirti (yang bermahkota indah – karena ia diberi mahkota indah oleh Dewa Indra saat berada di surga); Partha (putera Kunti – karena ia merupakan putra Perta alias Kunti). Dalam pertempuran di Kurukshetra, ia berhasil memperoleh kemenangan dan Yudistira diangkat menjadi raja. Setelah Yudistira mangkat, ia melakukan perjalanan suci ke gunung Himalaya bersama para Pandawa dan melepaskan segala kehidupan duniawai. Di sana ia meninggal dalam perjalanan dan mencapai surga.

Nakula

Nakula merupakan salah satu putera kembar pasangan Madri dan Pandu. Ia merupakan penjelmaan Dewa kembar bernama Aswin, Sang Dewa pengobatan. Saudara kembarnya bernama Sadewa, yang lebih kecil darinya, dan merupakan penjelmaan Dewa Aswin juga. Setelah kedua orangtuanya meninggal, ia bersama adiknya diasuh oleh Kunti, istri Pandu yang lain. Nakula pandai memainkan senjata pedang. Dropadi berkata bahwa Nakula merupakan pria yang paling tampan di dunia dan merupakan seorang ksatria berpedang yang tangguh. Ia giat bekerja dan senang melayani kakak-kakaknya. Dalam masa pengasingan di hutan, Nakula dan tiga Pandawa yang lainnya sempat meninggal karena minum racun, namun ia hidup kembali atas permohonan Yudistira. Dalam penyamaran di Kerajaan Matsya yang dipimpin oleh Raja Wirata, ia berperan sebagai pengasuh kuda. Menjelang akhir hidupnya, ia mengikuti pejalanan suci ke gunung Himalaya bersama kakak-kakaknya. Di sana ia meninggal dalam perjalanan dan arwahnya mencapai surga.

Sadewa

Sadewa merupakan salah satu putera kembar pasangan Madri dan Pandu. Ia merupakan penjelmaan Dewa kembar bernama Aswin, Sang Dewa pengobatan. Saudara kembarnya bernama Nakula, yang lebih besar darinya, dan merupakan penjelmaan Dewa Aswin juga. Setelah kedua orangtuanya meninggal, ia bersama kakaknya diasuh oleh Kunti, istri Pandu yang lain. Sadewa adalah orang yang sangat rajin dan bijaksana. Sadewa juga merupakan seseorang yang ahli dalam ilmu astronomi. Yudistira pernah berkata bahwa Sadewa merupakan pria yang bijaksana, setara dengan Brihaspati, guru para Dewa. Ia giat bekerja dan senang melayani kakak-kakaknya. Dalam penyamaran di Kerajaan Matsya yang dipimpin oleh Raja Wirata, ia berperan sebagai pengembala sapi. Menjelang akhir hidupnya, ia mengikuti pejalanan suci ke gunung Himalaya bersama kakak-kakaknya. Di sana ia meninggal dalam perjalanan dan arwahnya mencapai surga.

Riwayat singkat

Para Pandawa Lima menurut tradisi pewayangan Jawa. Dari Kiri ke kanan: Werkodara, Arjuna, Yudistira, Nakula dan Sadewa.

Masa kanak-kanak

Pandawa lima yang terdiri atas Yudistira, Arjuna, Bima, Nakula dan Sadewa, memiliki saudara yang bernama Duryodana dan 99 adiknya yang merupakan anak dari Destarasta yang tak lain adalah paman mereka, sekaligus Raja Astina menggantikan saudaranya Prabu Pandudewanata yang tak lain adalah ayah dari Pandawa lima. Sewaktu kecil para kurawa sudah mendapatkan pikiran berek dari Pamannya Suman / Sengkuni. Suatu hari Duryodana berpikir ia bersama adiknya mustahil untuk dapat meneruskan tahta dinasti Kuru apabila sepupunya masih ada. Mereka semua (Pandawa lima dan sepupu-sepupunya atau yang dikenal juga sebagai Korawa) tinggal bersama dalam suatu kerajaan yang beribukota di Astina. Akhirnya berbagai niat jahat muncul dalam benaknya untuk menyingkirkan para Pandawa beserta ibunya.

Usaha pertama untuk menyingkirkan Pandawa

Dretarastra yang menggantikan tahta kerajaan yang sebelumnya dipimpin oleh Prabu Pandudewanata menyerahkan kembali tahta kerajaan Astina kepada putra sulung Prabu Pandu Arjuna sebagai putra mahkota tetapi ia langsung menyesali perbuatannya yang terlalu terburu-buru sehingga ia tidak memikirkan perasaan anaknya. Hal ini menyebabkan Duryodana iri hati dengan Arjuna, ia mencoba untuk membunuh para Pandawa beserta ibu mereka yang bernama Kunti. Rencana tersebut dipelopori oleh Pamannya Harya Suman / Sengkuni dengan mengajak tukang kayu kerajaan untuk membuat tempat pesta dari bahan yang mudah terbakar. Pada saat pesta, Kunthi dan para Pandawa Lima disuruh minum air yang sudah dimasuki obat tidur, dan dibakarlah lokasi pesta tersebut. Segala sesuatunya yang sudah direncanakan Duryodana dibocorkan oleh Widura yang merupakan paman dari Pandawa. Sebelum itu juga Bima juga telah diingatkan oleh seorang petapa yang datang ke dirinya bahwa akan ada bencana yang menimpannya oleh karena itu Bima pun sudah berwaspada terhadap segala kemungkinan. Untuk pertama kalinya Bima membawa ibunya Kunthi dan keempat saudaranya lolos dalam perangkap Duryodana dan melarikan diri ke hutan rimba.

Para Pandawa mendapatkan Dropadi

Pandawa lima yang melarikan diri ke rimba mengetahui akan diadakan sayembara di Kerajaan Panchala dengan syarat, barang siapa yang dapat membidik sasaran dengan tepat boleh menikahkan putri Raja Panchala (Drupada) yang bernama Panchali atau Dropadi. Arjuna pun mengikuti sayembara itu dan berhasil memenangkannya, tetapi Bima dan Arjuna yang berkata kepada ibunya ketika ibunya tengah memasak, "Ibu, kami membawa sedekah yang terbaik!" Kunti, menjawab tanpa melihat, "Bagilah sama rata kepada saudaramu, Nak." Karena perkataan ibunya. Pancali pun bersuamikan lima orang.

Perselisihan antar keluarga

Bima merobek dada Dursasana dan meminum darahnya di medan perang Kurukshetra. Lukisan dari Lahore, th. 1930-an.
Pamannya (Dretarastra) yang mengetahui bahwa Pandawa lima ternyata belum mati pun mengundang mereka untuk kembali ke Hastinapura dan memberikan hadiah berupa tanah dari sebagian kerajaannya, yang akhirnya Pandawa lima membangun kota dari sebagian tanah yang diberikan pamannya itu hingga menjadi megah dan makmur yang diberi nama Indraprastha. Duryodana yang pernah datang ke Indraprastha iri melihat bangunan yang begitu indah, megah dan artistik itu. Setelah pulang ke Hastinapura ia langsung memanggil arsitek terkemuka untuk membangun pendapa yang tidak kalah indahnya dari pendapa di Indraprastha. Bersamaan dengan pembangunan pendapa di Hastinapura ia pun merencanakan sesuatu untuk merebut kerajaan milik Yudistira (Indraprastha) dan menjatuhkan Yudistira dan adik adiknya. Yang pada akhirnya Yudistra pun terjebak dalam rencananya Duryodana dan harus menjalani pengasingan selama 12 Tahun dan satu tahun untuk tidak dikenali, di dalam pengasingan itu Pandawa pun menyusun rencana untuk membalas dendam atas penghinaan yang telah dilakukan Duryodana dan adik adiknya, yang akhirnya memicu terjadinya perang besar antara Pandawa dan Korawa serta sekutu-sekutunya.

Pertempuran besar di Kurukshetra

Pertempuran besar di Kurukshetra (atau lebih dikenal dengan istilah Bharatayuddha di Indonesia) merupakan pertempuran sengit yang berlangsung selama delapan belas hari. Pihak Pandawa maupun pihak Korawa sama-sama memiliki ksatria-ksatria besar dan angkatan perang yang kuat. Pasukan kedua belah pihak hampir gugur semuanya, dan kemenangan berada di pihak Pandawa karena mereka berhasil bertahan hidup dari pertempuran sengit tersebut. Semua Korawa gugur di tangan mereka, kecuali Yuyutsu, satu-satunya Korawa yang memihak Pandawa sesaat sebelum pertempuran berlangsung.

Akhir riwayat

Setelah Kresna wafat, Byasa menyarankan para Pandawa agar meninggalkan kehidupan duniawi dan hidup sebagai pertapa. Sebelum meninggalkan kerajaan, Yudistira menyerahkan tahta kepada Parikesit, cucu Arjuna. Para Pandawa beserta Dropadi melakukan perjalanan terakhir mereka di Gunung Himalaya. Sebelum sampai di puncak, satu persatu dari mereka meninggal dalam perjalanan. Hanya Yudistira yang masih bertahan hidup dan didampingi oleh seekor anjing yang setia. Sesampainya di puncak, Yudistira dijemput oleh Dewa Indra yang menaiki kereta kencana. Yudistira menolak untuk mencapai surga jika harus meninggalkan anjingnya. Karena sikap tulus yang ditunjukkan oleh Yudistira, anjing tersebut menampakkan wujud aslinya, yaitu Dewa Dharma. Dewa Dharma berkata bahwa Yudistira telah melewati ujian yang diberikan kepadanya dengan tenang dan ia berhak berada di surga.
Sesampainya di surga, Yudistira terkejut karena ia tidak melihat saudara-saudaranya, sebaliknya ia melihat Duryodana beserta sekutunya di surga. Dewa Indra berkata bahwa saudara-saudara Yudistira berada di neraka. Mendengar hal itu, Yudistira lebih memilih tinggal di neraka bersama saudara-saudaranya daripada tinggal di surga. Pada saat itu, pemandangan tiba-tiba berubah. Dewa Indra pun berkata bahwa hal tersebut merupakan salah satu ujian yang diberikan kepadanya, dan sebenarnya saudara Yudistira telah berada di surga. Yudistira pun mendapatkan surga.

sumber : Wikipedia

MENGENAL KARAKTER TOKOH PANDAWA LIMA

MENGENAL KARAKTER TOKOH PANDAWA LIMA



Banyak sekali karakter pewayangan yang bisa kita jadikan contoh dalam kehidupan sehari-hari, tapi tentunya yang berkarakter baik. baik Pandawa Lima merupakan tokoh yang tidak dapat dipisahkan dengan kisah Mahabarata, karena Pandawa Lima merupakan tokoh sentralnya bersama dengan Kurawa.Pandawa lima adalah sebutan lima bersaudara, putra dari Pandu Dewanata yakni Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Berikut ini kita akan mengenal karakter tokoh pandawa lima :

YUDISTIRA
Yudistira memiliki nama kecilnya yaitu Puntadewa. Ia merupakan yang tertua di antara lima Pandawa, atau para putera Pandu dengan Dewi Kunti. Ia merupakan penjelmaan dari Dewa Yama. Yudistira memerintah di Kerajaan Amarta.
Karakter : Sifatnya sangat bijaksana, tidak memiliki musuh, hampir tak pernah berdusta seumur hidupnya. Memiliki moral yang sangat tinggi, suka mema’afkan serta suka mengampuni musuh yang sudah menyerah. Sifat lainnya yang menonjol adalah adil, sabar, jujur, taat terhadap ajaran agama, penuh percaya diri, dan berani berspekulasi. 


BIMA
Bima dengan nama kecilnya Sena. Bima merupakan putra kedua Pandu dengan Dewi Kunti. Ia merupakan penjelmaan dari Dewa Bayu sehingga memiliki nama julukan Bayusutha. Bima sangat kuat, lengannya panjang, tubuhnya tinggi, dan berwajah paling sangar di antara saudara-saudaranya. Meskipun demikian, ia memiliki hati yang baik. Pandai memainkan senjata gada. Senjata gadanya bernama Rujakpala. Bima juga dijuluki Werkudara. Dalam pewayangan Jawa, Bima memiliki anak yaitu Gatotkaca, Antareja dan Antasena.
Karakter : Bima memililki sifat dan perwatakan; gagah berani, teguh, kuat, tabah, patuh dan jujur.
Ia juga memiliki sifat kasar dan menakutkan bagi musuh, walaupun sebenarnya   hatinya lembut,  setia pada satu sikap, tidak suka berbasa basi dan tak pernah bersikap mendua serta tidak pernah menjilat ludahnya sendiri.
ARJUNA
Arjuna dengan nama kecilnya Permadi. Arjuna merupakan putra bungsu Dewi Kunti dengan Pandu. Ia merupakan penjelmaan dari Dewa Indra, Sang Dewa perang. Ia adalah ksatria cerdik dan gemar berkelana, gemar bertapa dan berguru menuntut ilmu. Arjuna memiliki kemahiran dalam ilmu memanah dan dianggap sebagai ksatria. Kemahirannnya dalam ilmu peperangan menjadikannya sebagai tumpuan para Pandawa agar mampu memperoleh kemenangan saat pertempuran besar di melawan Kurawa. Arjuna dikenal juga dengan nama Janaka. Ia memimpin kerajaan di Madukara
Karakter : Arjuna memiliki sifat perwatakan cerdik pandai, pendiam, lemah lembut budinya,teliti, sopan-santun, berani dan suka melindungi yang lemah.
NAKULA
Nakula dengan nama kecilnya Pinten. Nakula merupakan salah satu putera kembar pasangan Dewi Madrim dan Pandu. Ia merupakan penjelmaan Dewa kembar bernama Aswin, Sang Dewa pengobatan. Nakula pandai memainkan senjata pedang. Nakula merupakan pria yang paling tampan di dunia dan merupakan seorang ksatria berpedang yang tangguh. 
 Karakter : perwatakan jujur, setia, taat pada orang tua dan tahu membalas budi serta dapat menjaga rahasia.
SADEWA
Sadewa dengan nama kecilnya Tangsen. Sadewa merupakan salah satu putera kembar pasangan Dewi Madri dan Pandu. Ia merupakan penjelmaan Dewa kembar bernama Aswin, Sang Dewa pengobatan. Sadewa adalah orang yang sangat rajin dan bijaksana. Sadewa juga merupakan seseorang yang ahli dalam ilmu astronomi. 

Karakter :perwatakan jujur, setia, taat pada orang tua dan tahu membalas budi serta dapat menjaga rahasia. 



***dari berbagai sumber

public goods

public goods


PUBLIC GOODS

Manfaat dari pengklasifikasian barang atau jasa mempermudah dalam menentukan pengaturan-pengaturan tentang institusi (lembaga) mana yang paling berperan dalam penyediaannya.
“Pure public goods have two critical properties. The first is that it is not feasible to ration their use. The second is that it is not desirable to ration their use.” (Stiglitz, 188:199).
Barang publik (public goods) adalah barang yang apabila dikonsumsi oleh individu tertentu tidak akan mengurangi konsumsi orang lain akan barang tersebut. Suatu barang publik merupakan barang-barang yang tidak dapat dibatasi siapa penggunanya dan sebisa mungkin bahkan seseorang tidak perlu mengeluarkan biaya untuk mendapatkannya. Barang publik adalah untuk masyarakat secara umum (keseluruhan) sehingga dari semua kalangan dapat menikmatinya.
Contoh barang publik ini diantaranya udara, cahaya matahari, papan marka jalan, lampu lalu lintas, pertahanan nasional, pemerintahan dan sebagainya. Akan sulit untuk menentukan siapa saja yang boleh menggunakan barang publik karena keberadaannya memang untuk konsumsi semua orang.
Penilaian terhadap sifat publik atau privat dari sebuah barang maupun jasa tidak bisa dinilai berdasarkan karakteristik inheren yang dimilikinya. Menurut Gaye Yilmaz (2005), sifat “publik” dari sebuah barang atau jasa merujuk pada persoalan cara barang atau jasa tersebut diberikan (delivered) kepada masyarakat. Penilaian terhadap sifat publik atau privat dari sebuah barang maupun jasa tidak bisa dinilai semata-mata berdasarkan apakah ia dapat diperdagangkan atau tidak. Menurut Yilmaz, sesuatu disebut sebagai public goods ketika negara memiliki peran utama dalam proses pengadaan maupun penyalurannya sehingga dapat dinikmati oleh seluruh warga negara. Di sini, negara meyakini bahwa ia merupakan kebutuhan bersama. Dalam dunia nyata jarang sekali barang yang bersifat publik atau privat 100%, kebanyakan bersifat publik semu dengan derajad kesemuan yang berbeda-beda
Pemerintah pun pada hakikatnya hanya dapat terwujud karena diadakan oleh publik. Pihak pemerintah pun mengadakan barang publik dengan meminta kontribusi dari publik, diantaranya dengan pajak. Selain itu, seringkali juga pemerintah dapat bertindak sebagai fasilitator penyedia barang publik untuk kemudian hanya masyarakat tertentu yang bisa menikmatinya atau untuk meningkatkan efisiensi produksinya kemudian bekerja sama dengan sektor swasta dengan batasan-batasan tertentu. Contohnya penyediaan tenaga listrik atau pengolahan air bersih, yang hanya dapat dinikmati oleh mereka yang membayar untuk itu, atau membangun jalan dan jembatan juga dari pajak, dsb. Bisa saja kemudian masyarakat sendiri yang menyediakan barang publik untuk pemenuhan kebutuhannya, misalnya dengan kerja bakti dsb. Disisi lain, pemerintah memiliki kesulitan dalam mengatur jumlah penarikan kontribusi secara langsung kepada para pengguna public goods, karena pembayaran tidak berhubungan langsung dengan permintaan maupun pemanfaatannya. Untuk itu diperlukan mekanisme pasar yang diatur melalui suatu proses politik yang dapat menentukan seberapa banyak public goods yang harus disediakan dan seberapa besar kontribusi yang harus dibayar oleh para pengguna baik melalui pajak, retribusi maupun bentuk-bentuk kontribusi lainnya.
Sektor swasta tentu akan menyerahkan pada pihak lain untuk mengadakan barang publik karena terlalu tidak efisien bagi mereka. Hal ini kemudian menimbulkan penafsiran bahwa konteks public goods adalah barang yang harus disediakan oleh pemerintah. Hal ini tidak selamanya benar. Karena penggunaannya yang untuk publik, maka pada hakikatnya, publiklah yang juga harus menyediakannya. Savas (2000 : 53) mengemukakan bahwa masyarakat dapat menyediakan sendiri kebutuhan akan barang atau jasa yang bersifat kolektif melalui voluntary action (kesukarelaan).
Public goods di dalam komunitas yang cukup besar dan relatif kompleks membutuhkan peralatan dan biaya yang relatif lebih banyak. Untuk itu diperlukan kontribusi dari masyarakat untuk mengatur penyediaannya, misalnya dengan menerapkan sistem pajak sebagai bentuk dari kontribusi dan hasil pengumpulannya digunakan untuk membiayai kegiatan tersebut. Disinilah peran pemerintah dibutuhkan untuk memfasilitasi kepatuhan masyarakat terhadap aturan-aturan dalam memberikan kontribusi, misalnya memberikan sangsi kepada masyarakat yang tidak taat pajak atau sebaliknya memberikan insentif kepada yang taat membayar pajak.
Barang publik memiliki ciri-ciri yang membedakannya dengan barang lainnya, yakni :
  1.  Non exclusive
Apabila suatu barang publik tersedia, tidak ada yang dapat menghalangi siapapun untuk memperoleh manfaat dari barang tersebut atau dengan kata lain, setiap orang memiliki akses ke barang tersebut. Jadi semua orang, baik orang tersebut membayar maupun tidak membayar dalam mengkonsumi barang atau jasa tersebut, ia tetap memperoleh manfaat.
Sebagai contoh dalam konteks pasar, baik mereka yang membayar maupun tidak membayar dapat menikmati barang tersebut. Sebagai contoh, masyarakat membayar pajak yang kemudian diantaranya digunakan untuk membiayai penyelenggaraan jasa kepolisian misalnya, akan tetapi yang kemudian dapat menggunakan jasa kepolisian tersebut tidak hanya terbatas pada yang membayar pajak saja. Mereka yang tidak membayar pun dapat mengambil menfaat atas jasa tersebut. Singkatnya, tidak ada yang dapat dikecualikan (excludable) dalam mengambil manfaat atas barang publik. Contoh yang lain adalah Hankam. Semua penduduk mendapat perlindungan yang sama dalam bidang Hankam, baik mereka yang membayar jasa Hankam maupun yang tidak membayar. Hal serupa dapat diterapkan pada tingkat lokal seperti program pengendalian nyamuk atau program pencegahan melawan penyakit. Dalam kasus ini sekali program tersebut diimplementasikan, seluruh penduduk dari komunitas tersebut diuntungkan, dan tidak seorangpun dapat dikecualikan dai manfaat tersebut, tanpa memperhitungkan apakah mereka membayar atau tidak.
  1. Non Rivalry
Non-rivalry dalam penggunaan barang publik berarti bahwa penggunaan satu konsumen terhadap suatu barang tidak akan mengurangi kesempatan konsumen lain untuk juga mengkonsumsi barang tersebut. Setiap orang dapat mengambil manfaat dari barang tersebut tanpa mempengaruhi menfaat yang diperoleh orang lain.
Sebagai contoh, dalam kondisi normal, apabila kita menikmati udara bersih dan sinar matahari, orang-orang di sekitar kita pun tetap dapat mengambil manfaat yang sama, atau apabila kita sedang mendengar adzan dari sebuah mesjid misalnya, tidak akan mengurangi kesempatan orang lain untuk ikut mendengarnya. Kemudian misalkan satu tambahan mobil melintas di jalan raya selama periode tidak ramai. Karena jalan tersebut sudah ada, satu lagi kendaraan melintas tidak membutuhkan sumberdaya tambahan dan tidak mengurangi konsumsi pihak lainnya. Satu lai tambahan pemirsa pada satu saluran televisi tidak akan menambah biaya meskipun tindakan ini menyebabkan terjadinya tambahan konsumsi. Konsumsi oleh tambahan pengguna dari barang semacam itu adalah nonrivalitas/nonpersaingan sehingga tambahan konsumsi tersebut membutuhkan biaya marjinal sosial dari produksi sebesar nol; konsumsi tersebut tidak mengurangi kemampuan orang lain untuk mengkonsumsi.
  1. Joint consumption
Barang atau jasa dapat digunakan atau dikonsumsi bersama-sama. Suatu barang atau jasa dapat dikatakan memiliki tingkat joint consumption yang tinggi jika barang atau jasa tersebut dapat dikonsumsi bersama-sama secara simultan dalam waktu yang bersamaan (joint consumption) tanpa saling meniadakan manfaat (rivalitas) antara pengguna yang satu dan lainnya. Sedangkan untuk barang atau jasa yang hanya dapat dimanfaatkan oleh seseorang dan orang lain kehilangan kesempatan menikmatinya, maka barang atau jasa tersebut dikatakan memiliki tingkat joint consumption yang rendah.
  1. Externalities
Eksternalitas. Secara umum, eksternalitas akan terjadi apabila masyarakat mendapatkan dampak atau efek-efek tertentu diluar barang atau jasa yang terkait langsung dengan mekanisme pasar. Dalam konteks mekanisme pasar, Keterkaitan suatu kegiatan dengan kegiatan lain yang tidak melalui mekanisme pasar inilah yang disebut dengan eksternalitas. Dapat dikatakan bahwa eksternalitas adalah suatu efek samping dari suatu tindakan pihak tertentu terhadap pihak lain, baik dampak yang menguntungkan maupun yang merugikan. Mudahnya, ini adalah efek yang terjadi diluar apa yang mungkin diharapkan atau didapat dari penyelenggaraan suatu barang atau jasa.
Dapat dibedakan menjadi dampak positif (External Benefit) atau dampak negatif (External Cost) yang diperoleh dari memproduksi, mendistribusikan atau memngkonsumsikan barang atau jasa yang dibebankan kepada orang lain yang tidak secara langsung mengkonsumsi barang tersebut.
Contoh External Benefit: Imunisasi, pendidikan dasar. Dengan dilakukan imunisasi, maka terjangkitnya penyakit tersebut dalam masyarakat menjadi kecil.
Contoh External Cost :
rumah-rumah yang terletak di pinggir jalan akan mendapat polusi dari kendaraan yang melalui jalan itu, padahal mereka tidak membayar untuk itu. Polusi ini adalah contoh eksternalitas negatif. Contoh lain, sebuah taman yang cukup besar dibangun di tengah kota dengan tujuan untuk dijadikan obyek wisata dan menambah pendapatan kota tersebut. Eksternalitas yang kemudian mungkin terjadi adalah efek estetika kota dan udara yang relatif lebih bersih di sekitar taman tersebut. Ini adalah contoh eksternalitas positif. Disebut eksternalitas karena efek-efek ini terjadi diluar tujuan penyelenggaraannya. Kita tidak akan terlalu banyak membahas mengenai terminologi eksternalitas ini karena konteksnya dapat sangat meluas. Kita hanya perlu memahami pengertian dasarnya saja.
  1. Indivisible
Yakni tidak bisa dibagi-bagi dalam satuan unit yang standar untuk bisa di delivery.
  1. Marginal Cost = 0
Artinya, tidak ada tambahan biaya untuk memproduksi tambahan satu unit output
Contoh : biaya untuk bikin jalan tol utk satu atau seratus orang adalah sama. Dibiayai oleh tarif atau harga, disediakan melalui mekanisme birokrasi atau politik.
Jenis barang dan jasa berdasarkan karaketeristiknya

Easy to exclude
Difficult to exclude
Individual consumption
Individual goods
(e.g.: food, clothing, shelter)
Common-pool goods
(e.g., fish in the sea)
Joint consumption
Toll goods
(e.g., cable TV, telephone, electric power)
Collective goods
(e.g., national defense, felons)
Sumber : E.S. Savas, 2000:62 )

Efek-efek yang terkait dengan kedua sifat barang publik ini adalah
Free riders. Free riders ini adalah mereka yang ikut menikmati barang publik tanpa mengeluarkan kontribusi tertentu sementara sebenarnya ada pihak lain yang berkontribusi untuk mengadakan barang publik tersebut. Contohnya adalah mereka yang tidak membayar pajak tadi, tapi ikut menikmati jasa-jasa atau barang-barang yang diadakan atas biaya pajak. Contoh lain, sebuah jalan desa dibangun dengan kerja bakti. Free rider kemudian adalah mereka yang tidak ikut kerja bakti, tetapi kemudian ikut menggunakan jalan desa tersebut. Dalam ilmu ekonomi, keberadaan masalah free rider dan eksternalitas inilah yang kemudian menyebabkan terjadinya inefisiensi pasar.
Sektor swasta biasanya kemudian mengembankan cara-caranya sendiri untuk mengatasi efek eksternalitas dan free rider yang dapat menimbulkan inefisiensi tersebut. Contohnya, siaran televisi sebenarnya dapat digolongkan sebagai public goods bagi seluruh pemilik televisi. Akan tetapi, sektor swasta misalnya kemudian mengembangkan sistem periklanan atau sistem TV-kabel yang mengacak transmisi siaran sehingga hanya dapat ditangkap dengan dekoder tertentu agar hanya mereka yang membeli dekoder itu yang dapat menikmati siarannya. Contoh lain adalah sistem jalan toll, sehingga hanya mereka yang membayar yang dapat menggunakan jalan tersebut. Untuk menghindari adanya free riders dibutuhkan kekuatan pemerintah untuk memberlakukan paksaan (kewajiban) kepada masyarakat untuk memberikan kontribusi.
Di dalam penggolongan barang publik terdapat kerancuan dikarenakan sifatnya yang non-excludable namun justru menimbulkan rivalry atau non-rivalry yang justru menimbulkan excludable. Kita bisa sepakat bahwa jalan merupakan fasilitas umum, public good, dan siapapun berhak menggunakan jalan raya sebagai sarana perhubungan. Akan tetapi, dapat kita bayangkan apabila terlalu banyak pengguna jalan yang memakai satu jalan di satu waktu maka dapat menyebabkan kemacetan lalu lintas. Keberadaan satu kendaraan dapat mengurangi kesempatan kendaraan lain untuk dapat mengambil manfaat jalan itu secara optimal. Dengan kata lain, jalan raya bersifat non-excludable, akan tetapi dia menimbulkan rivalry, terutama dalam kondisi macet. Kondisi yang menyebabkan atau memaksa terjadinya hal ini adalah terbatasnya ketersediaan lahan untuk membangun jaringan jalan. Kita tidak bisa begitu saja membangun sebuah jaringan jalan karena lahan terbatas dan masih banyak fungsi-fungsi lain yang memerlukan lahan tersebut. Contoh lain adalah air bersih. Kita sepakat bahwa semua orang membutuhkan air bersih, dan karena itu, secara alamiah air harus kita golongkan kedalam public goods, seperti halnya udara dan sinar matahari. Tetapi, apabila kita melihat contoh kasus pada PDAM, pengolahan air bersih membutuhkan biaya mahal. Untuk itu, jasa PDAM kemudian hanya diberlakukan pada mereka yang membayar. Mereka yang selama beberapa waktu tidak membayar maka tidak bisa lagi menikmati jasa PDAM itu. Artinya, dia bersifat excludable. Selain itu, penggunaan air bisa optimal apabila sumber air bersihnya melimpah atau jumlah penggunanya tidak terlalu banyak. Akan tetapi, dalam kondisi dimana air bersih merupakan sesuatu yang sedang langka atau penggunanya sangat banyak, penggunaan oleh satu konsumen dapat mengurangi kesempatan konsumen lain untuk menggunakan air bersih. Dengan demikian, dalam kondisi tertentu, dia bisa bersifat rivalry. Meskipun begitu, sekali lagi, karena selama ini kita mengenal air bersih sebagai salah satu kebutuhan primer.semua orang dan karenanya harus dkelompokkan sebagai barang publik. Selain itu ada satu sisi, teknologi dapat dikategorikan sebagai barang publik dan pada sisi yang lain, dia juga dapat berfungsi sebagai barang pribadi. Pertanyaannya, di manakah batas antara teknologi sebagai barang publik dan sebagai barang pribadi ? Hal ini tergantung pada jenis teknologi dan dampaknya bagi masyarakat luas. Jika suatu jenis teknologi memiliki dampak sosial dan ekonomi yang mau tidak mau akan dinikmati banyak orang, maka teknologi tersebut adalah barang publik. Oleh karena itu, adalah kewajiban pemerintah untuk mengeluarkan biaya bagi pengembangan dan pengadaannya. Jenis teknologi ini meliputi transportasi massal, kesehatan, energi, pendidikan, infrastruktur, dan komunikasi. 
Masalah penyediaan public goods muncul karena sulitnya memperkirakan seberapa besar kebutuhan akan barang atau jasa yang perlu disediakan. Masalah lain yang terjadi juga disebabkan oleh sifat dari public goods yang digunakan secara kolektif, dimana seseorang hanya punya pilihan terbatas untuk mendapatkan layanan atau barang tersebut (public goods).

DAFTAR PUSTAKA




http://anitaalawiyah.blogspot.com/2011/03/public-goods.html (diakses 30 September 2013)
Nia Andriani Elf

Buat Lencana Anda

Label

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

Recent News

 

Haedanghwa24 Copyright © 2009 Cookiez is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template